Rindu

Posted: Agustus 7, 2010 in Puisi

Mengapa rindu itu selalu datang
Membawa duka
Melenyapkan suka

Aku tak sanggup lagi menyiram taman hatiku
Tapi aku juga tak sudi bila semuanya layu
Kering, menguning, hingga akhirnya mati.

Kemana aku mencari air
Kemarau terlalu panjang
Entah sampai kapan

22-01-2008, Buus Permai, Sya’rawi 413

Jiwa yang Rapuh

Posted: Agustus 7, 2010 in Puisi, Sastra

Apa yang kamu ingingkan sebetulnya wahai jiwa yang kosong
Kamu menghilang di tengah hutan rimba
Tidak jelas arah yang engkau tuju
Hanya ada angan-angan semu di benakmu

Biadab!

Kamu itu manusia. Tahu diri kamu!
Kamu pembohong, penipu, penjahat

Kamu kotor, hatimu hitam pekat, jiwa rusak
Kamu hamba hawa nafsumu sendiri

Ya Allah !

Bebaskan aku dari tirai kelam ini
Kuingin seperti mereka nikmat menyembahMu

Lalu sebenarnya apa salahku
Aku hampir tidak lagi bisa mengurai benang dosa-dosaku

Aku sadar ini semua salah
Namun mengapa bisikan-bisikan itu terus saja membenarkan

Dimana cahaya
Dimana Petunjuk
Dimana RidhaMu

Aku selalu yakin Engkau zat Yang Maha Pengampun

Sya’rawi 413, 30 Desember 2007

Sahabat

Posted: Agustus 7, 2010 in Puisi

Sahabat
Kenangan itu terlalu indah untuk kita
Kebersamaan itu teramat kental
Masa itu begitu berarti
Akan terngiang sepanjang masa
Saat kita bersama mulai mengenal arti kehidupan
Mulai paham kenapa kita hidup
Bukan karena memang sudah saatnya kita harus paham
Tapi lebih bahwa kita dipaksa memahaminya

Sahabat
Kita pernah bersama dalam tawa
Mengisi sepi dengan mendialogkan kedua hati kita
Berdua dalam duka yang menyaya
Sepakat untuk tidak pasrah pada hidup
Menjalin cinta dan kepedulian

Sahabat
Bukan aku membencimu
Tapi aku tak sanggup melupakanmu
Melupakan sejarah kita

Sahabat
Kuingin menjadi diriku sendiri
Menemukan siapa aku ini sesungguhnya, tanpamu
Saatnya aku lepas dari bayang-bayangmu

Sahabat
Saat kita bertemu kelak
Aku hanya ingin berucap : terima kasih
Terima kasih atas persahabatan ini

Palestina, Dukaku Dukamu?

Posted: Agustus 7, 2010 in Puisi

Katanya kita bersaudara
Tapi aku hanya bisa menganga
Bahkan aku cuma bisa duduk atau sekedar berdiri
Memandangmu dari jauh tanpa bukti peduli

Aku tahu kini engkau menjerit
Pasrah pada mayat anak-anak, para perempuan tua dan muda, para pemuda, yang bersimbah darah,

dibalut kain putih seadanya.
Dan itu ada di depanmu

Suasana sekelilingmu mencekam
Bahkan mengerikan oleh muntahan bomber-bomber milik manusia-manusia biadab itu.
Baca entri selengkapnya »

Untukmu Saudaraku

Posted: Agustus 7, 2010 in Puisi, Sastra

Malam ini tak akan ada tangis haru
Biarkanlah tetes-tetes bening itu menyemai rasa yang akan menyatu dalam taman-taman rindu

Ya, malam ini hanya akan ada rindu
Karena banyak kenangan indah yang kami rajut bersamamu

Izinkan aku memandangmu sambil mengingat-ingat segala kebaikanmu

Saudaraku
Ketahuilah bahwa kami banyak mengambil ibrah dari setiap lipatan waktu bersamu

Sungguh malam ini akan menjadi saksi bisu
Betapa aku akan selalu merindukanmu

20 Januari 2009, Baruga Sulawesi
Dibacakan pada malam perpisahan bintang-bintang KKS

Sebening Kasih Nenek*

Posted: Agustus 7, 2010 in Cerpen, Sastra

Satria merasa berat berpisah dengan sang nenek yang sehari-hari dipanggilnya dengan sebutan “ibu”. Hari selasa ini, Satria masuk Pesantren. Di pintu gerbang pesantren al-Falah, Satria mendengar dengan seksama nasihat neneknya, “Nak, harapan Ibu kamu bisa menjadi ulama. Ibu akan bahagia sekali bila kamu berhasil menimba ilmu agama di tempat ini. Belajar yang sungguh-sungguh ya nak!”.

Sang nenek tak kuasa menahan haru. Sebenarnya ia pun berat memasukkan cucu kesayangannya di Pesantren tersebut. Ia sangat memahami sifat Satria yang sangat manja dan masih jauh dari kemandirian. Untungnya, selama ini ia telah mengajar Satria belajar mandiri seperti mencuci pakaiannya sendiri sejak naik ke kelas 6 SD.
“Bu, sering kunjungi Satria ya di sini! Entar kalau Satria kangen sama ibu, Satria bakal gimana?”, kata Satria dengan wajah sedih. “Ri, ibu akan sering datang kesini. Doakan ibu ya nak! Semoga ibu selalu sehat dan masih kuat bepergian” jawab sang nenek sambil mendekap cucu tercintanya.

Nenek yang sudah masuk usia renta itu perlahan meninggalkan Satria yang berdiri mematung di gerbang. Pandangan Satria tertuju lurus kepada sosok yang telah membesarkannya sejak balita. Orang tua Satria telah menitipkannya karena ketika itu beban hidup keluarga makin bertambah. Terutama sejak kelahiran adik Satria. Baca entri selengkapnya »

Musy Henaa

Posted: Agustus 7, 2010 in Cerpen, Sastra, Tulisan Lepas
Tag:, ,

Aku benar-benar yakin bahwa inilah jalan Shalah Salim. Kata seorang teman, di kawasan ini terdapat kantor departemen luar negeri Mesir khusus urusan legalisir dan lain-lain.

Kata teman tadi alamatnya tidak jauh dari lokasi pameran internasional. Bagiku kawasan ini tidak asing. Tiap tahun aku pasti mengunjunginya. Di tempat inlah pameran buku internasional digelar. Aku berani katakan, 99,99 % mahasiswa tahu tempat ini. Selain kawasan berburu buku dan temu penulis-penulis ternama, tempat ini juga menjadi arena rekreasi.

Sebenarnya kantor yang lazim didatangi bukan di jalan Shalah Salim ini. Mestinya aku ke jalan Ahmad Urabi, Mohandisin. Sebelum pindah, kantor itu berada di depan asramaku, buus islamiyah. Tentu aku lebih memilih mengurus di Shalah Salim karena jaraknya lumayan dekat dari asramaku.

Bis nomor 65 tujuan distrik H-10 menurunkanku tepat di depan Nadi Sekka, yang letakknya persis di bawah kubri (jalan layang) menuju Ramsis. Kata teman itu, dari Nadi Sekka, aku bisa jalan kaki menuju kantor tersebut. Alhamdulillah jalan besar ralatif lengan. Biasanya sangat sulit menyebrang karena selain padatnya lalu lintas, rata-rata pengemudi Mesir, maaf, kesetanan bila menyetir. Apalagi sopir angkutan umum yang mengejar setoran. Nyaris tak mengindahkan pejalan kaki. Seenaknya saja melaju dan benar-benar mengerikan. Baca entri selengkapnya »